Malam berlalu begitu saja.
Siang pun begitu. Tak ada aktivitas berarti yang aku lakukan selain makan,
tidur, nonton dan mencuci. Mandi kadang dua hari sekali. Satu hari serasa
sebulan. Semuanya berla;u tanpa ada makna yang kuperoleh. Untuk pertama kalinya
aku merasa muak dengan hidup ini. Tak tahu apa yang harus aku lakukan sehingga
hidup ini berarti. Hidup yang tak menarik.
Tayangan TV pun kini menjadi
tak menarik bagiku. Aku terlalu bosan dengan tayangan yang ada. Berharap salah
satu dari 40 channel yang ada dapat menghiburku namun ternyata tak ada. Serasa
mau teriak. Teriak dengan sangat_sangat keras. Teriakan yang dapat membuatku
semangat kembali.
Aku duduk di teras rumah.
Menghirup angin malam yang ternyata sepi. Mencoba menikmati malam ini dengan
sesuatu yang segar. Aku membanting-banting kepalaku di kursi santai berharap
ada inspirasi merasuki ku namun itu sia-sia. Pikiranku masih melayang-layang
diudara mencoba memecah kebuntuan. Bosan membanting kepala ke kursi, aku
mengubahnya dengan arah yang berbeda. Kali ini aku menggeleng-gelenggkannya
berharap lampu diatas kepalaku menyala lalu suaraku terdengar mengucapkan
“aha.., aku ad aide!” tetapi itu semua tak terjadi. Aku masih buntu.
Dua hari memaksakan diri
terkurung di rumah ternyata menjadi sumber awal proses autisasi. Ini, itu sama
sekali tak ada yang menarik. Aset berbagai genre music yang ada dilaptopku pun
tak mampu mencairkan kebekuan pikiranku dan kesepian hatiku. Aku merasa hampa.
Tak ada satu hal pun yang menarik untuk aku lakukan. Keautisan ini perlahan
demi perlahan menjadikanku orang paling hampa di dunia ini. sekai lagi, aku
merasa hampa. Saking hampanya, hari jumat ini terdoktrin hari minggu dipkiranku.
Aku selalu saja lupa kalau hari ini masih hari kerja.
Bagaimana aku akan maju kalau
aku hanya menghabiskan waktuku dengan mondar-mandir di dalam rumah seperti ini.
rumah yang serasa sangat panas dan menegangkan. Apalagi setelah insiden
kemarin. Insiden yang seharusnya tidak asing lagi bagiku, pertengkaran rumah
tangga akibat salah satu pasangan yang selingkuh. Aku sudah terbiasa dengan hal
seperti itu. Yang menjadikannya tak biasa adalah bahwa ini terjadi bukan di kampung
halamanku melainkan di perantauan. Meski tensinya mulai turun namun hawa
pertengkarannya masih kuat. Mungkin ini juga yang membuatku merasa terganggu
dan tak tahu harus berbuat apa. Dua hari ini aku sungguh berjalan mundur,
semakin mundur dan mundur lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar